MOST RECENT

|

IPAL Kebutuhan Kota Metropolitan


Keberadaan IPAL akan membuat Kota Makassar menjadi lebih bersih dan ramah lingkungan.



Visi Makassar menuju kota dunia yang berkearifan lokal, tidak akan berhasil jika salah satu kebutuhan pokok kota dunia diabaikan. Contohnya, keberadaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang akan memberi dampak positif bagi keberlangsungan sebuah kota besar.
Namun saat ini, pembangunan IPAL yang lokasinya berada di Jalan Metro, Kecamatan Tamalate, belum dapat dimulai disebabkan lahan seluas enam hektare belum berhasil dibebaskan seluruhnya. Jika kendala ini sudah teratasi, pembangunan yang akan menghabiskan  biaya sekitar  Rp 407 miliar  ini akan bisa dimulai.
Keberadaan IPAL di Kota Makassar nantinya akan mengelola air limbah secara terpadu. Sehingga, limbah yang berasal dari rumah tangga, industri rumahan, dan pusat perbelanjaan tidak akan merusak lingkungan dan ekosistem Kota Makassar. Sebagai kota besar,  jika tidak ada sistem pengelolaan limbah yang baik, maka pembangunan tidak akan berjalan lancar.
Untuk saat ini limbah yang bersumber dari beberapa tempat seperti rumah warga, semuanya bermuara ke drainase dan kanal yang ada di Kota Makassar. Akibatnya, air yang ada di kanal dan drainase  berwarna hitam dan berbau. Dan pastinya, bisa berdampak pada kesehatan masyarakat terutama  gangguan pernapasan pada saat kita berada di sekitar tempat tersebut.
Selain itu, dampak yang cukup besar adalah terganggunya kebersihan kota, pencemaran air tanah, yang akibatnya air tak lagi bisa diminum. Dengan adanya IPAL, diharapkan pemeliharaan  drainase akan lebih mudah, cukup dengan pengangkatan sedimen saja. Di satu sisi, Kota Makassar pun akan terhindar dari banjir.
“Hal seperti ini akan ditanggulangi dengan pengelolaan air limbah secara terpadu,” ucap Ir. H. Ridwan Muhadir, M.Si, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar, yang didampingi Drs. Imbang Muryanto, M.Si, Kasi Sanitasi Bidang Sarana dan Prasarana Lingkungan. Dalam rencana, setelah IPAL selesai, maka  akan dihubungkan dengan jaringan pipa, khususnya pipa limbah.
Semua limbah dari warga seperti tinja dan air rumah tangga akan bermuara pada IPAL, lalu limbah tersebut dikelola secara manual. Jika limbah tersebut telah melalui proses pengelolaan dan dianggap sudah ramah lingkungan, maka baru akan dibuang ke laut. Sementara, sisa dari air limbah akan diolah lagi menjadi pupuk.
Pada tahap pertama IPAL beroperasi, akan mencakup wilayah pusat kota terlebih dahulu, seperti, Kecamatan Makassar, Kecamatan Ujung Pandang, dan Kecamatan Mariso.  “Semua warga yang berada  di kawasan IPAL wajib menyambungkan pipa IPAL dari rumah mereka,”  kata  Imbang Muryanto. Jadwal pengerjaan IPAL ini sendiri telah  disiapkan sejak 2007 khusus perencanaan makronya.
Awalnya dana pinjaman sebesar Rp 407 miliar telah siap, namun pembebasan lahan yang dinilai terlalu lama menyebabkan dana tersebut batal diserahkan ke Pemerintah Kota Makassar. Walaupun dana pinjaman ini batal diserahkan, namun Pemerintah Pusat tetap berkomitmen akan membiayai dengan menyediakan dana dari sumber manapun termasuk APBN.
Agar pembagunan IPAL ini dapat dimulai tahun ini juga, diharapkan kerja sama masyarakat pemilik lahan untuk bersedia menyerahkan lahannya demi pembangunan IPAL. Mengingat Pemerintah Pusat telah memberi teguran, jika tahun ini semua lahan tidak berhasil dibebaskan, maka anggaran untuk pembangunan IPAL akan dialihkan ke daerah lain.  Hingga saat ini, Pemerintah Kota Makassar telah mengeluarkan dana sebesar Rp 6 miliar untuk pembebasan lahan.

Posted by PANRITA'E on 7:02 AM. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "IPAL Kebutuhan Kota Metropolitan"

Leave a reply

TINGGALKAN KOMENTAR

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added